Kisah Perjalanan Sang Traveller Menjadi Barista

NEWS by admin on 10 October 2018

Kecintaannya pada kopi membuat traveller yang akrab disapa Risky ini memilih untuk mendalami dunia kopi dan barista.

 

Bagaimana perjalanan anda sampai bisa menjadi barista di Coffee Toffee?

Sebenarnya saya masih baru lulus SMA dan belum pernah kerja sama sekali. Ini pekerjaan pertama saya. Pertama gabung di Coffee Toffee tahun 2017. Waktu itu saya belum tahu apa-apa. Sebelum jadi barista, saya flooring dulu. Lucunya, saat antar orderan ke pelanggan, saya belum hapal nama-nama menunya. Ketika ada pelanggan yang pesan Chocolate Grande misalnya, saya cuma bilang “es coklat”. Saat di bagian kitchen juga begitu. Saya cuma bisa nyalain kompor aja.

Kemudian barulah saya jadi tim opening Merr. saat itu saya sudah di bagian bar, sambil sekalian belajar. Namanya belajar, wajar aja kalau masih sering keliru. Tapi perlahan-lahan saya mulai bisa.

 

Pengalaman apa yang paling berkesan selama merintis karir jadi barista?

Ada banyak sih.

Pernah waktu saya di bagian kitchen, saya masak makanan sampai gosong. Ada lagi yang lucu. Waktu itu saya belanja keperluan store. Eh kok di tengah jalan, bensin motor saya habis. Jadi ya nuntun. Untung ada penjual bensin eceran.

 

Pelajaran hidup apa yang anda dapatkan dari proses merintis karir menjadi barista?

Kalau pelajaran hidup yang saya dapat ada banyak. Terutama dari lingkungan kerja yang ada di Coffee Toffee. Saya jadi lebih rajin dan lebih disiplin. Dan karena sudah bekerja, saya punya tanggung jawab sendiri. Dari sini saya belajar untuk tidak pernah menyepelekan pekerjaan.

 

Apakah anda ingin terus berkiprah di dunia barista dan kopi?

Pastinya.

Saya ingin buka usaha nanti. Semacam kafe keliling seperti yang ada di Jogja. Nah dari situ, saya bisa mengenalkan pada masyarakat tentang barista dan kopi. Biar nggak ada lagi negative thinking tentang barista.

Dan kalau saat uji silver barista ini lolos, saya mau lanjut terus mendalami kopi dan dunianya sekalian nanti ingin bawa kopi ke Semeru.

Kebetulan saya kan suka naik gunung, nah kalo naik gunung biasa bawa kopi. Setahun ini, baru travelling ke gunung-gunung yang ada di Jawa Timur sih. Pastinya sambil bawa kopi juga. Dan semoga, kalau berhasil lolos audisi silver barista nanti, saya mau bawa kopi ke semeru.

 

Apakah ada pesan untuk teman-teman yang ingin jadi barista seperti anda sekarang?

Yang paling penting adalah belajar, terutama teknik indera perasa. Sering-sering merasakan kopi dari berbagai macam tempat saja. Dari situ kita bisa tahu bagaimana perbedaan rasa kopi. Karena meskipun jenis kopi yang dipakai sama, tapi rasa kopi pasti beda.

Kalau masih baru jadi barista memang harus sering belajar. Kita bisa belajar dari banyak sumber, terutama dari internet. Di Youtube saja ada banyak video-video tentang teknik-teknik pembuatan kopi. Ini bagus untuk mengembangkan skill barista.




Punch Me Strawberry , Penyelamat Kala Panas Menyengat

Oleh admin pada 08 December 2018


Lukisan Indah dalam Secangkir Cafe Latte

Oleh admin pada 01 December 2018


Guilty Pleasure dalam Segelas ‘Sins of Coffee’

Oleh admin pada 01 December 2018


Kopi dan Ice Cream, Padu Padan yang Mendobrak Tradisi Kopi

Oleh admin pada 24 November 2018


Memikat dengan Latte Art

Oleh admin pada 17 November 2018